Hot!

Kisah Nyata Mantan Pengikut Kelompok Radikal


Mengapa Saya Pernah Mendukung Kelompok Intoleran Radikal

-Thread-
Sebelumnya maaf kalo threadnya bakal panjang. Saya coba runut mulai dari proses awal mendalami ajaran agama dan kenapa akhirnya saya bisa kenal dan mendukung kel. radikal. Sampai terbuai janji khilafah kaya adek adek yg di pidio kemaren wkwkwkwkwk surem :(

Cc Kang @rasjawa
Maksud saya bercerita di sini ingin meluapkan keresahan melihat banyaknya orang2 awam yg terbuai 'propaganda'. Mungkin juga bs jadi masukan buat kalian yg bingung "saya niatnya mendalami agama tapi ko ada yg ga sreg ya".

Kalian ga sendiri. Saya pernah melewati itu..
Sebelum saya bercerita, saya sadar saya belum jd muslim yg baik. Kalopun saya ga pantas membahas hal ini dlm kapasitas sebagai muslim, maka saya akan bicara sebagai seorang anak bangsa yg sedang lara karena melihat negerinya mulai dikoyak kaum radikalis.
Jujur saya sedih melihat orang2 yg intoleran. Yg merasa paling benar yang lain sesat, bid'ah. Atau lebih parah lagi..orang2 yg kini mendukung khilafah dengan bangganya.
"Perkenalan" saya dgn kelompok tsb bermula dari majalah Islami langganan keluarga. Sejak 2003-2008, kami langganan 3 majalah Islami. Majalah yg satu segmennya wanita muslim. Yg satu buat remaja muslim. Satu lagi kayanya lebih ke segmen umum tp isinya ga jauh dari thogut, jihad
Cukup populer ko majalahnya..hehehe..
Bertaun2 langganan, jadi pembaca setia, tentu doong ajaran dari majalah2 tsb udah khatam merasuk ke dalam sukma. Amat sangat mempengaruhi pemikiran.

Sebuah proses internalisasi nilai yang begitu panjang. Halus namun efektif.
Namanya baca majalah Islami, ya saya sendiri kaya dapet hidayah lah istilahnya. Dulu juga udah gencar seruan hijrah. Jadii sebelum hijrah "ngetrend", saya udah mengenal dunia hijrah belasan taun lalu. Cuman dulu karna belum ada media sosial, jadi ga booming kaya sekarang.
Bayangkan posisi saya kala itu. Seorang anak muda labil yg tiba2 menemukan oase untuk kegersangan ladang batinnya.. fase yg sangat menentramkan, bukan? Saya rasa mereka yg kini hijrah juga begitu. Menemukan kedamaian. Nikmat sekali rasanya..
Karna waktu itu saya tinggal di desa, akses internet terbatas, kajian/liqo ga masuk desa, internalisasi nilainya ya didapet dari media cetak tsb.

Jadi kalo yg lain hijrah karna ikut kajian atau dari media sosial, saya hasil 'pengkaderan via media cetak'. Tp sama efektifnya
Paham kan rasanya sedang dimabuk agama, diajari begini saya manut. Begitu, manut. Apalagi ga ada narasi counter attack. Saya emang ngaji sama Ustadzah di kampung, tapi mereka kala itu belum sadar ada paham2 ekstrim yg sedang disosialisasikan.
Saya ringkas aja deh takut melebar.

Saya memang merasakan kedamaian tapi tanpa sadar di saat yg sama saya menjadi intoleran krn dijejali paham2 ini:

1. Saya mudah mencurigai non muslim. Karena isu soal kristenisasi, hinduisasi, dll.cukup sering diangkat dan diulas
2. Menyebut non muslim dengan sebutan kafir. Saking membudayanya, kita jadi merasa biasa aja nyebut kafir. Padahal tanpa saya sadari itu bibit intoleran. Nurani dan etika saya mengatakan agar saya menghormati saudara non muslim mulai dari hal sesederhana ini
Bukankah mereka yg bukan saudara seiman adalah saudara dalam kemanusiaan?

Jika kalian terbiasa dan membenarkan penyebutan kafir dengan segenap argumen kalian, silakan. Tapi saya memilih menjadi orang yg menghormati penganut agama lain mulai dari hal sekecil ini.
3. Nah, jangankan sama non muslim, sama saudara seiman tapi beda aliran aja dijejali paham2 kalo mereka sesat.

Dulu saya setuju tahlilan bid'ah.. Maulidan ga ada dalilnya. Duhai.. Agama jadi terasa tekstual. Kaku. Asing. Ga nyatu sama ritme sosial budaya.
4. Saya dulu jadi antipati dengan Gus Dur, dgn Nurcholis Majid. Karena saya diajari kalo sosok2 tsb tokoh yg berbahaya.

ya jelas, cendekiawan muslim dianggap berbahaya bagi mereka yg konservatif. Saya baru paham skrg.
5. Saya jg ga ngerti kenapa selalu disuguhin teori konspirasi. Dikit2 zionis, yahudi. Lagu Balonku aja dibilangnya konspirasi menjatuhkan umat Islam. Astaga. Kebodoran yang hakiki teu sih 😅

Oleh mereka, Islam selalu digambarkan tertindas, terancam..
6. Ngomong harus serba ana antum akhi ukhti. Padahal harusnya bedain mana atribut agama mana atribut budaya. Tp saya kini paham, itu salah satu upaya melepaskan identitas kebangsaan. Karna ketika identitas itu mengabur, maka jangan tanya soal nasionalisme.
Soal penggunaan bahasa ini keliatannya sepele. Silakan sebut saya berlebihan. Tapi renungkan saja sendiri, salah satu cara menggoyahkan nasonalisme dimulai dengan mengaburkan identitas kebangsaan.
7. Sejak dulu sudah dijejali kalo pancasila itu thogut. Pemerintah zalim. Indonesia harus ganti sistem. Iya, aq pernah percaya dan merindukan khilafah. Kayanya kalo ga insaf, aq skrg adalah follower babang Felix gitu deh, uwuwuwuwuwu. KHILAFAH ADALAH SOLUSY!!!!1!!!
Memang dari dulu juga kontra sama pemerintahan, karena jelas mereka punya kepentingan politik. Kelompok ini baru pro sama penguasa kalo penguasa tsb merangkul mereka. Semacam simbiosis mutualisme. Termasuk yg terjadi sekarang. Hehe. Ngerti lah ya
7. Yang paling parah, saya percaya kalo aksi bom bunuh diri itu JIHAD dan para pelakunya PEJUANG di jalan Allah. Ini hal paling saya sesali. Kemanusiaan saya lenyap hanya karena saya percaya mereka tengah berjuang menegakkan agama Allah
Menurut saya puncak kengerian dari mendukung gerakan radikalis itu adalah ketika kemanusiaanmu lenyap. Tidak apa2 ada bom. Ada kehancuran. Itu semua demi tegaknya agama Allah kelak.
Setiap kali ada bom bunuh diri yg merenggut nyawa, saya seakan merasa itu jihad jihad jihad! Begitu menggelora semangat juang di dalam dada..

Betapa hina pemikiran saya dulu. Itu sama saja seperti menganggap Allah haus darah...
Saya kala itu percaya Amrozi pahlawan. Imam Samudera pahlawan. Karena saya membaca liputan di majalah itu tentang spirit kepahlawanan mereka.

Ngeri kalo diinget-inget lagi. Saya ga sadar saya sedang mendukung pembunuh. Saya sedang merayakan tragedi kemanusiaan.
Saya meminta maaf kepada seluruh korban aksi bom, karena nurani saya dulu terbutakan. Saya telah mendukung pembunuh kalian, perusak hidup kalian. Bagi korban selamat, semoga hidup kalian lebih baik, semoga selalu dilindungi. Maafkan saya yang pernah khilaf..
Begitulah proses saya brkenalan sampai akhirnya mendukung gerakan intoleran radikal. Inti dari thread ini:
1. Media propaganda mereka berupa apa saja. Online maupun offline, trmasuk media cetak.Saya yakin saya bukan satu2nya pelanggan majalah yg akhirnya mndukung gerakan radikal
2. Ada proses panjang bagaimana seseorang akhirnya menjadi pendukung gerakan intoleran radikal. Diawali dari mengajak mereka hijrah untuk merasakan atmosfir keagamaan. Iya, ga bs dipungkiri kalo seruan hijrah ini bukan tanpa embel-embel. Hijrah ini hanya semacam pembuka

Dikutip dari akun twitter: @HanaNuraini90

0 komentar:

Post a Comment