Hot!

Bendera Kalimah Tauhid HTI

Bendera Kalimah Tauhid HTI
Bendera Kalimah Tauhid yang dipakai Rasulullah itu seperti apa? Apakah seperti bendera HTI ISIS Al Qaidah dan Arab Saudi? Berikut penjelasan singkat dari kitab Muqaddimah Ibnu Khaldun

Twitter Sam Ardi:
Seorang 'alim, sosiolog dan sejarawan muslim bernama Ibnu Khaldun pernah menulis sebuah kitab yang menjadi rujukan para sarjana baik muslim maupun Barat, kitab tersebut berjudul Muqaddimah (Ind: Pengantar)

Pada kitab tersebut, saya menemukan pembahasan khusus mengenai royah (bendera) dan liwa (panji). Menurut Ibnu Khaldun di dalam kitabnya halaman 201, bendera dan panji merupakan atribut khas pemimpin yg membedakan dia dg pemimpin lainnya.

Masih di halaman yang sama Ibnu Khaldun menuturkan bahwa pengibaran bendera dan panji, dilakukan pada saat situasi perang, disertai pukulan terhadap genderang serta tiupan terompet.

Apa maksud semua itu? Mengapa di dalam medan perang perlu memperlihatkan itu semua? Menurut Ibnu Khaldun, ini merupakan bentuk perang urat syaraf sebelum perang sesungguhnya karena itu semua mempengaruhi emosional orang-orang yang berada di sekitar medan perang

Di halaman selanjutnya, 202, dijelaskan oleh Ibnu Khaldun, bendera perlu diperbanyak dan dibentangkan bertujuan menimbulkan rasa takut terhadap musuh. Hal ini untuk menimbulkan reaksi psikologis atas diperlihatkannya simbol-simbol tersebut

Ibnu Khaldun menjelaskan pula bahwa bendera dipergunakan sebagai si'ar perang sejak dunia diciptakan. Pun demikian dengan masa Rasulullah dan para khalifah setelahnya.

Dinasti Abbasiyah dan setelahnya juga menggunakannya. Tidak ada ukuran dan model spesifik, sehingga antar Dinasti yang berkuasa setelah Khulafa al Rasyidin berbeda-beda warna dan bentuknya.

Ibnu Khaldun memberikan contoh, pada Dinasti Abbasiyah, royah atau bendera mereka menggunakan warna hitam dg maksud sebagai bentuk bela sungkawa terhadap para syuhada Bani Hasyim dan sebagai celaan kepada Bani Umayah yang membunuh mereka. Royah tadi diberi nama al Musawwadah

Bani Thalib saat itu juga menggunakan bendera berwarna putih dg nama al Mubayyadhah. Al Ma'mun ketika naik tahta tidak juga menggunalan warna hitam atau putih, tetapi dia menggunakan warna hijau.

Pindah tempat dan linimassa, kita ke Andalusia di Eropa. Menurut Ibnu Khaldun, pada masa Sultan Abu al Hasan, royah dibuat dari kain sutera dan dihiasi oleh emas.

Pada masa daulah Turki, mereka juga membuat bendera yang besar, yg pada ujungnya dipasang ikatan rambut. Mereka menamakan al Syaalisya dan al Jinra, keduanya merupakan penanda atau atribut Sultan

Pada masa tersebut saking banyaknya bendera yang dibuat, mereka memberikan nama bendera-bendera itu dg nama al Sanajiq, bentuk jamak dari sanjaq, artinya bendera. Para panglima dan pejabat boleh membuat, kecuali al Jinra, karena itu khusus untuk Sultan.

Begitulah penuturan Ibnu Khaldun di dalam kitabnya Muqaddimah, selesai di halaman 203.

Twitter Nadirsyah Hosen: "HTI itu pondasinya rapuh. Pakai Hadits khilafah ‘ala minhajin nubuwwah: ternyata dha’if. Mengklaim pakai bendera Rasul: ternyata Haditsnya dha’if. Orang NU pakai Hadits dha’if itu utk fadhail amal, bukan utk ngancurin NKRI yg berdiri atas perjuangan & kesepakatan para ulama."

“Mayoritas Ulama berpendapat makruhnya menulis ayat-ayat Al-Quran dan Kalimat Thoyyibah pada tembok, bendera, atap rumah dan lain sebagainya. Bahkan, sebagian ulama mengatakan haram. (Tafsir Al-Qurtubi)

0 komentar:

Post a Comment